MANDIKAN AKU BUNDA

Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang diMILIKInya sampai akhirnya .....

Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus,
sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya.
''Why not the best,'' katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika.

Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk
salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran.

Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.

Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih
PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ''alif'' dan huruf
terakhir ''ya'', jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya
sebagai anak yang pertama dan terakhir.

Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia
terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain.

Setulusnya saya pernah bertanya, ''Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal? '' Dengan sigap Rani menjawab,
''Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!'' Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan
perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat telepon.
Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti.

Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar
dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak.

''Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.'' Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng
menjelang tidurnya.

Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan
suaminya kembali menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif.
Lagi-lagi bocah kecil ini ''memahami'' orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya
mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek.

Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ''malaikat kecilku''.

Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam,
saya iri pada keluarga ini.

Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter. ''Alif ingin Bunda
mandikan,'' ujarnya penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik
permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar
mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut.

Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ''Bunda, mandikan aku!'' kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan
suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah
dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.

Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. ''Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang
di Emergency.'' Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah sudah punya rencana lain. Alif,
si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.

Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya
keinginan dia adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen untuk
suatu saat memandikan anaknya sendiri.

Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. ''Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,
'' ucapnya lirih, di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan
tangis.

Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani,
sahabatku yang tegar itu, berkata, ''Ini sudah takdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan,
kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan?'' Saya diam saja.

Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya
kosong. ''Ini konsekuensi sebuah pilihan,'' lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja
meniupkan aroma bunga kamboja.

Tiba-tiba Rani berlutut. ''Aku ibunyaaa!'' serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan
Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak. ''Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali
saja Lif. Sekali saja, Aliiif..'' Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup
di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.

Read more »

8 KEBOHONGAN IBU

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang
mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini
justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya
sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin.
Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil
memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata: "Makanlah nak, aku tidak lapar" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam
dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan.
Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu
duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan
yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sendokku dan memberikannya kepada
ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan" ----------
KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah
kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di
kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan
gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi
ibu masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak, aku tidak capek" ---------- KEBOHONGAN IBU
YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari
mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng
berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam
botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental.
Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :
"Minumlah nak, aku tidak haus!" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada
pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah.
Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal
di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat
kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala
tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun.
Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu,
tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata :
"Saya punya duit" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas
ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan
gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati,
bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku "Aku tidak terbiasa" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada
jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring
lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun
senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit
itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air
mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata :
"jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan :
" Terima kasih ibu !"


Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak
menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini,
kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan
ibu yang ada di rumah.


Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar
pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita.



Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita?
Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya,
coba kita renungkan kembali lagi..

Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata
"MENYESAL" di kemudian hari.
Read more »

Membeli Waktu Papa


Steven adalah seorang karyawan perusaahan yang cukup terkenal di Jakarta , memiliki dua putra. Putra pertama baru berusia
6 tahun bernama Leo dan putra ke dua berusia dua tahun bernama Kristian. Seperti biasa jam 21.00 Steven sampai di rumahnya

di salah satu sudut Jakarta, setelah seharian penuh bekeja di kantornya. Dalam keremangan lampu halaman rumahnya
dia melihat Leo putra pertamanya di temani bik Yati pembantunya menyambut digerbang rumah. Selengkapnya...


"Kok belum tidur Leo?" sapa Steven sambil mencium anaknya. Biasanya Leo sudah tider ketika Steven pulang dari kantor
dan baru bangun menjelang Steven berangkat ke kantor keesokan harinya.

"Leo menunggu Papa pulang, Leo mau tanya, gaji Papa itu berapa sih Pa?" kata Leo sambil membuntuti papanya.

"Ada apa nih kok tanya gaji papa segala?"

"Leo Cuma pingin tahu aja kok Pah?

"Baiklah coba Leo hitung sendiri ya. Kerja papa sehari di gaji Rp 600.000,-, nah selama sebulan rata-rata dihitung
25 hari kerja. Nah berapa gaji papa sebulan?"

"Sehari Papa kerja berapa jam Pa?" tanya Leo lebih lanjut.

"Sehari papa kerja 10 jam Leo, nah hitung sana, Papa mau melepas sepatu dulu."

Leo berlari ke meja belajarnya dan sibuk mencoret-coret dalam kertasnya menghitung gaji papanya. Sementara Steven
melepas sepatu dan meminum teh hangat buatan istri tercintanya.

"Kalau begitu, satu bulan Papa di gaji Rp 1.500.000,-, ya Pah? Dan satu jam papa di gaji Rp. 60.000,-." Kata Leo setelah
mencorat-coret sebentar dalam kertasnya sambil membuntuti Steven yang beranjak menuju kamarnya.

"Nah, pinter kamu Leo. Sekarang Leo cuci kaki lalu bobok." Perintah Steven, namun Leo masih saja membuntuti Steven sambil
terus memandang papanya yang benrganti pakaian.

"Pah, boleh tidak Leo pinjam uang Papa Rp. 5.000,- saja?" tanya Leo dengan hati-hati sambil menundukkan kepalanya.

"Sudahlah Leo, nggak usah macam-macam, untuk apa minta uang malam-malam begini. Kalau mau uang besok saja, Papa kan capek
mau mandi dulu. Sekarang Leo tidur supaya besuk tidak terlambat ke sekolah!"

"Tapi Pah.."

"Leooo!! Papa bilang tidur!"bentak Steven mengejutkan Leo.

Segera Leo beranjak menuju kamarnya. Setelah mandi Steven menengok kamar anaknya dan menjumpai Leo belum tidur. Leo sedang
terisak pelan sambil memegangi sejumlah uang. Steven nampak menyesal dengan bentakannya. Dipegangnyalah kepala Leo pelan
dan berkata: "Maafkan Papa ya nak. Papa sa yang sekali pada Leo." ditatapnya Leo anaknya dengan penuh kasih sambil ikut
berbaring di sampingnya.

"Nah katakana pada Papa, untuk apa sih perlu uang malam-malam begini. Besuk kan bias, jangankan Rp. 5.000,-, lebih banyak
dari itupun akan Papa kasih."

"Leo nggak minta uang Papa kok, Leo cuma mau pinjam. Nanti akan Leo kembalikan, kalau Leo udah menabung lagi dari uang
jajan Leo."

"Iya, tapi untuk apa Leo?" tanya Steven dengan lembut.

"Leo udah menunggu Papa dari sore tadi, Leo nggak mau tidur sebelum ketemu Papa. Leo pingin ngajak Papa main ular tangga.
Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang bahwa waktu papa berharga. Jadi Leo ingin beli waktu Papa."

"Lalu." tanya Steven penuh perhatian dan kelihatan belum mengerti.

"Tadi Leo membuka tabungan, ada Rp 25.000,-. Tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 60.000,-, maka untuk
setengah jam berarti Rp. 30.000,-. Uang tabungan Leo kurang Rp. 5.000,-. Maka Leo ingin pinjam pada Papa. Leo ingin
membeli waktu Papa setengah jam saja, untuk menemani Leo main ular tangga. Leo rindu pada Papa." Kata Leo polos dengan
masih menyisakan isakannya yang tertahan.

"Steven terdiam, dan kehilangan kata-kata. Bocah kecil itu dipeluknya erat-erat, bocah kecil yang menyadarkan bahwa
cinta bukan hanya sekedar ungkapan kata-kata belaka namun berupa ungkapan perhatian dan kepedulian.
Read more »

Singapore old men Go to Karimun For Cheap SEX

Singapore old men on news again. Guess what? Same thing again, sex in cheap island lor.

Tanjung Balai (Karimun), Indonesia is where they love to go. From Singapore, you can take a ferry and arrive there in about 3 hours. Eh, I not promoting the place okay. But just telling you all what they doing.
Apparently, there was a crackdown in Mid May 2007 this year, which lasted for about a month. 100 Singaporeans got caught at the scene. HAHAHAHA! (Want play kuku jiao dun scared kena. All the flowers growing on the birdy you also not scared, no need scared malu) This forced many Singaporeans to divert their attention from there, keeping their weenies small and controlled. Singaporeans always got this mentality: Dun get caught, very malu(embarrassed) one.

I think a lot of this visitors should be old people, or uncles in their mid life crisis. I suspect also most of them maybe are Taxi drivers. How not to think this way? Every time I sit Taxi, some uncles bored one will sure talk dirty with me: tell me where big where good where cheap where got many.

Occasionally some complain about the Mainland Chinese ladies who always loiter in our Geylang District. Now think back, aiyuh, all the uncles acting only.

Siao eh, you see the charboh ladies, either too young or too old. Uncles dunno doing what.

Now their choices so many, got Tangkok-Ali, Viagra, old uncle no need scared cannot do. HAHAHAHA!

below is extracted from the straits times in regard to this post. Wah, I tell you, ST also damn good in choosing time write this kind of article one. Do on weekend news, then aunties see, then uncles hong-gan liao... LOL

source: The Strait Times

".....The Singapore men were seen walking hand-in-hand with their 'cewek' (Indonesian girls) making their way to seafood restaurants around town.

Most just smiled and refused to talk when approached by this newspaper reporter. Others shook their heads when asked if they were looking for girls and walked away.

One said: 'Sorry, I do not know anything about the raids. This trip is my first time.' But locals familiar with him said he was a regular.

Another, a widower in his 60s, said he came with a friend and worked as a lorry driver.

'I like to come to Karimun to enjoy myself. We can have a good seafood meal for .

'Sometimes, I try to get an Indonesian girl to keep me company. Those from Java are very pretty, and they also know how to treat men nice,' he said.

He said he had heard about the raids from a friend and avoided coming.

But now, he thinks that everything is okay.

'I am not scared because the Karimun police will only catch the types who book the young ones.'

A Singaporean who looked to be in his 50s said he had visited the island only last week.

'The usual things, makan, sleep, sing. I am not choosy. I do not need a young girl, but she must be pretty,' he said.

'We Singaporeans come here not to do bad things. We pay everything for the girl. Now, I do not go out of hotel room. I just tell my driver to take the girl to the hotel, and we stay inside. We do not need to come out; it is not safe.'

One man was even defiant about his plans. He said he was here to eat, drink and have a good time, and there was nothing wrong with that. .....

.....

When police raided the place sometime in May, close to 100 Singapore clients were at the scene.

'They were traumatised by the experience, although the police left them alone. Until today, some kept calling me to ask if it was safe to return,' he said.

........."

Aiyuh, don't disturb these old men la, Singapore. They're very lonely people. Some more standards of living in Singapore so high, want eat seafood also hard. Give them their imagined paradise for the weekend won;t hurt to much one. If you are so worried about the image of Singapore, then find some educational outreach to these old ah-beks sea whether will listen a not. They may probably visit your local turf club during the weekends and earn some short money to enjoy the trip over. Don't pour too much water on them.

Anyway, I think the local police in Karimun also trying to dig some Kopi-lui from all these, at the same time to stop all those forced prostitution and under-aged selling. So, this one we Singapore don't worry also. I think the one we most worry is scared those old uncle's wives go that island cat fight with the locals only. Socially, we all so scared die, WOMAN power very strong one.
Read more »

S'pore sex tourists back on Karimun


SINGAPORE men are flocking back to Karimun Island a month after Indonesian police raids aimed at stamping out forced prostitution, human trafficking and illegal abortions.

Yesterday, three Singapore ferries carrying 20 to 30 Singaporeans arrived on the island famous for its pretty young things.

The arrivals surprised locals, who had been complaining of poor business during the police crackdown - a month of nightly raids which ended on May 15.

At least four hotels declared 'full house', and pimps were all smiles yesterday, different from the expressions they wore a day earlier.

By noon yesterday, 49 of 60 girls under one pimp's charge at a popular sex joint, Villa Kapling, had already been booked.

"Half my clients today were Singapore men. I am now left with only 11 girls. If you want, book one now. In an hour's time, when the next ferry arrives, there will be no more girls for you," he told The Sunday Times.

The Singapore men were seen walking hand-in-hand with their 'cewek' (Indonesian girls) making their way to seafood restaurants around town.

Most just smiled and refused to talk when approached by this newspaper reporter. Others shook their heads when asked if they were looking for girls and walked away.

One said: "Sorry, I do not know anything about the raids. This trip is my first time." But locals familiar with him said he was a regular.

Another, a widower in his 60s, said he came with a friend and worked as a lorry driver.

"I like to come to Karimun to enjoy myself. We can have a good seafood meal for $20.

"Sometimes, I try to get an Indonesian girl to keep me company. Those from Java are very pretty, and they also know how to treat men nice," he said.

He said he had heard about the raids from a friend and avoided coming.

But now, he thinks that everything is okay.

"I am not scared because the Karimun police will only catch the types who book the young ones."

A Singaporean who looked to be in his 50s said he had visited the island only last week.

"The usual things, makan, sleep, sing. I am not choosy. I do not need a young girl, but she must be pretty," he said.

"We Singaporeans come here not to do bad things. We pay everything for the girl. Now, I do not go out of hotel room. I just tell my driver to take the girl to the hotel, and we stay inside. We do not need to come out; it is not safe."

One man was even defiant about his plans. He said he was here to eat, drink and have a good time, and there was nothing wrong with that.

Operasi Bunga Seligi 2007, the police raid, was the first of its kind on Karimun - and will certainly not be the last, said Karimun police chief Leonidas Braksan.

He said his team will decide if such raids will be conducted annually or more frequently.

In Indonesia, women aged 21 and below are considered minors unless they are married. The police chief said many of the 200 women rounded up during the operation were minors as young as 16 years old.

An Indonesian pimp who goes by the name Yus said: "It is an open secret that majority of the girls here were young, 17, 18, 19 years old, before the operation.

"But now, no more young ones. They have all been sent back to their villages."

He said that Singapore men make up 30 per cent of the clients at Villa Kapling.

When police raided the place sometime in May, close to 100 Singapore clients were at the scene.

"They were traumatised by the experience, although the police left them alone. Until today, some kept calling me to ask if it was safe to return," he said.

Sixteen pimps - all Indonesians - alleged to have trafficked in women and young girls by force had been arrested, and were now awaiting their fate in court.

If found guilty, they each could be jailed for up to five years.

Mr Leonidas said: "We welcome tourists, whether they are Singaporeans or Malaysians. We will not stop them from having a good time here as long as they do not exploit the women."

Read more »

Life is good again


because it looks like we figured out what the suspend/resume problem was. And as suspected, the actual resource code had nothing what-so-ever to do with it, and was apparently just a trigger for timing.

It's frustrating with bugs like that, but on the other hand it's then a big relief when it gets resolved, and in this case we also ended up going through a lot of code and I think we'll be much better off as a result. It's also a huge relief to find the actual root cause, rather than seeing things that can be used to paper over and hide the problem.

And kudos to the people who actually saw the problem (Rafael and Frans), and who spent a lot of time trying out different things and sending out logs and looking at the resource allocation. The real clue was in a log from a successful suspend/resume cycle that showed some questionable behaviour despite not actually failing.
Read more »

Many flocking to sex paradise Karimun

KARIMUN Island, in Indonesia's Riau province, has emerged as a sex paradise for Malaysians and Singaporeans, the Sin Chew Daily reported.

The island, which is full of brothels with about 2,000 prostitutes, received 94,422 Malaysian and 98,711 Singaporean visitors in 2007, tourism officials said.

Many of the prostitutes are from Kalimantan and Java, with the youngest about 16 years old.

Despite police raids and the arrest of a number of pimps, the paper said the brothels continue to operate and visitors continue to flock there.

Located south of Johor and Singapore, Karimun is just an hour's boat ride from the island city-state and visitors are offered a sex package the moment they land.

Many arrive on Saturday morning and return the next day.

A retired businessman said that whenever he visited Karimun, he would tell his family that he was outstation playing mahjong.
Read more »

Many flocking to sex paradise Karimun

KARIMUN Island, in Indonesia's Riau province, has emerged as a sex paradise for Malaysians and Singaporeans, the Sin Chew Daily reported.

The island, which is full of brothels with about 2,000 prostitutes, received 94,422 Malaysian and 98,711 Singaporean visitors in 2007, tourism officials said.

Many of the prostitutes are from Kalimantan and Java, with the youngest about 16 years old.

Despite police raids and the arrest of a number of pimps, the paper said the brothels continue to operate and visitors continue to flock there.

Located south of Johor and Singapore, Karimun is just an hour's boat ride from the island city-state and visitors are offered a sex package the moment they land.

Many arrive on Saturday morning and return the next day.

A retired businessman said that whenever he visited Karimun, he would tell his family that he was outstation playing mahjong.

Read more »

Life is good again

because it looks like we figured out what the suspend/resume problem was. And as suspected, the actual resource code had nothing what-so-ever to do with it, and was apparently just a trigger for timing.

It's frustrating with bugs like that, but on the other hand it's then a big relief when it gets resolved, and in this case we also ended up going through a lot of code and I think we'll be much better off as a result. It's also a huge relief to find the actual root cause, rather than seeing things that can be used to paper over and hide the problem.

And kudos to the people who actually saw the problem (Rafael and Frans), and who spent a lot of time trying out different things and sending out logs and looking at the resource allocation. The real clue was in a log from a successful suspend/resume cycle that showed some questionable behaviour despite not actually failing.
Read more »

Debugging hell

So I've spent much of the last couple of days remotely debugging this insane suspend failure (or to be exact, resume failure) that happens occasionally for a couple of people.

Now, suspend/resume debugging is some of the nastiest crud around, because when you suspend a machine, you end up (obviously) having to turn all the devices off. And guess what? That also means that you have no way to then inform the user about what is going on when things go wrong, because all those nice devices (like the screen - duh) will not be available. So no screen output, no serial console traces, no network dumps, no nothing.

To make matters worse, we even know how to trigger the problem (on those particular machines, neither of which are mine), but the particular PCI resource layout that is needed seems to have nothing what-so-ever to do with the actual failure itself. It seems to be just a way to trigger it, nothing more.

(And that's also why I've been debugging it personally - the whole resource allocation thing is one of the areas where very few other people know how things work. Most of the time I can try to prod others into looking at the bugs, but in this case it was one of those rare "Linus or nobody" choices).

So I'm frustrated. I'm doubly frustrated because it's a reasonably recent Intel chipset, and some simple debugging facilities is the one thing I've been asking Intel to add to the core chipset for the last several years so that we could do some kind of sane tracing over complete failures where all other devices are unavailable and you have to power off the machine to get it back.

Grr.

I want to be back under water.
Read more »
Older Posts
Home